image1

LET'S MAKE SOMETHING|I'M MAKER FROM SANTRI

Studi: Membaca Novel Favorit Bagus Bagi Otak

Membaca Novel

Ada konektivitas yang tinggi dalam otak setelah membaca novel

VIVAnews - Peneliti di Emory University, Kota Atlanta, AS, menunjukkan bahwa hobi membaca novel dapat membawa perubahan positif bagi otak pembacanya. Penilaian ini berdasarkan riset atas pemahaman bahasa dan alur pada novel. Hasilnya, fungsi otak pembaca kian meningkat.

Dilansir Daily Mail, Selasa 31 Desember 2013, kesimpulan itu muncul setelah peneliti menggunakan alat pindai pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI). Pemindaian ini mengidentifikasi jaringan otak yang terkait dengan pemahaman bahasa.

"Kami ingin memahami bagaimana cerita masuk dalam otak dan apa yang terjadi," kata Gregory Berns, pemimpin studi dan direktur Centre for Neuropolicy di Emory University.

Dalam studinya, peneliti memindai otak 12 mahasiswa yang membaca novel yang sama, berjudul Pompeii, selama 19 hari secara berurutan. Novel itu merupakan bacaan fiksi thriller karya Robert Harris, yang belatar erupsi Gunung Vesuvirus, Italia.

Kemudian peneliti memilihkan bagian novel yang memiliki cerita naratif terbaik. Mahasiswa kemudian diminta membaca sembilan bab selama sembilan hari dan tiap sore harinya, peneliti menanyakan kepada mahasiswa tiap 30 halaman yang dibaca.

Pada pagi hari berikutnya, mahasiswa dipindai fMRI pada dalam keadaan tak membaca, setelah menjawab pertanyaan sebelumnya. Ini untuk memastikan mahasiswa telah membaca bab novel itu.

Setelah menuntaskan sembilan bab, mahasiswa dipindai lebih dari lima kali tiap pagi hari dalam keadaan otak istirahat (resting-state). Alhasil, pemindaian otak menunjukkan adanya konektivitas yang tinggi terjadi pada bagian temporal cortex, area otak yang dikaitkan dengan penerimaan bahasa.

"Bahkan jika mahasiswa tak serius membaca novel, dan dipindai, mereka tetap menunjukkan konektivitas yang tinggi," jelas Profesor Bern.

Bayangan Aktivitas
Profesor Bern menyebutkan fenomena ini sebagai bayangan aktivitas, yang hampir mirip seperti memori otot. Tingginya konektivitas juga terlihat pada area central sulcus, area utama sensor motorik otak.

Peneliti juga menemukan adanya perubahan saraf pada otak mengikuti sensasi fisik saat membaca novel. Sebab saat kita berpikir tentang "lari," maka saraf akan mengkaitkan dengan tindakan fisik lari.

Meski perubahan saraf hanya bertahan paling lima hari, tapi Profesor Bern percaya membaca novel bisa berdampak pada biologi otak. "Fakta yang terjadi, menunjukkan novel favorit Anda pasti bisa berdampak lebih besar dan tahan lama pada biologi otak Anda," tegas Bern.

Studi ini telah diterbitkan dalam Jurnal Brain Connectivity, yang merupakan jurnal penelitian fMRI.

Share this:

CONVERSATION

0 comments: